Mediaintelijen.id
Bekasi,18/07/2026
SUKAKERTA, SUKAWANGI, KABUPATEN BEKASI — Mediaintelijen.id
Di tengah harapan warga Desa Sukakerta, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi atas perbaikan pengairan sawah, proyek besar yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) justru menuai kekecewaan mendalam. Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3A-TGAI) yang dikelola Kementerian Pekerjaan Umum — Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, di atas kertas terdengar meyakinkan. Namun di lapangan, hasil pengerjaan Di Duga terlihat asal jadi, buruk kualitasnya, dan berpotensi sia-sia.Hari Jumat 17 Juli 2026
📑 PROFIL LENGKAP PROYEK
Berdasarkan papan informasi resmi yang terpasang di lokasi pekerjaan, data proyek adalah sebagai berikut:
Data Keterangan
Nama Program Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3A-TGAI)
Pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi
Daerah Irigasi Jatiluhur / SS. Srengseng Hilir
Lokasi Desa Sukakerta, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi
Nomor Kontrak HK.02.01/PPK.OPSD-02/Av-P3A-TGAI/225/2026
Sumber Dana APBN Tahun Anggaran 2026
Waktu Pelaksanaan 45 Hari Kalender
Tanggal Kontrak April 2026
Pelaksana KSM Galian Mandiri
Unit Pengelola Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan SDA Citarum
Pengawas Balai Besar Wilayah Sungai Citarum
Secara tertulis, tujuannya mulia: memperbaiki dan memperkuat saluran irigasi agar air mengalir lancar, sawah tercukupi air, dan hasil panen petani meningkat. Namun kenyataan di lapangan jauh dari janji tersebut.
🔍 TEMUAN TERPERINCI DI LAPANGAN
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi proyek, ditemukan sejumlah kejanggalan dan ketidaksesuaian standar teknis yang sangat mencolok:
1. 🧱 Pasangan Batu Tidak Rata, Semen Tipis dan Berantakan
Dinding saluran irigasi dibangun dengan sistem pasangan batu, namun pengerjaannya sangat dipertanyakan:
- Batu tidak tertata rapi — ukuran dan posisi batu tidak disusun berjejer, melainkan hanya diletakkan sembarangan dengan celah yang tidak seragam
- Adukan semen tipis dan tidak merata — di banyak titik, semen hanya dioles sekadarnya untuk menempelkan batu, tidak padat dan tidak memenuhi celah secara sempurna
- Permukaan dinding tidak rata — ada bagian yang menonjol keluar, ada yang masuk ke dalam, tinggi dinding bervariasi dalam jarak beberapa meter
- Struktur terlihat rapuh — beberapa batu terpasang longgar, seolah-olah bisa copot jika tersentuh aliran air yang agak kuat
- Penyelesaian tepi atas kasar — beton penutup dinding tidak rata, bergelombang, dan banyak bagian yang kurang semen
2. 💧 Genangan Air Membuktikan Kemiringan Saluran Salah Rancang
Temuan paling fatal dan nyata terlihat adalah air menggenang di sepanjang saluran yang baru dikerjakan. Padahal prinsip dasar saluran irigasi sangat sederhana: harus ada kemiringan yang konsisten agar air mengalir. Faktanya:
- Dasar saluran tidak rata — ada bagian yang lebih rendah sehingga air tertahan dan mengendap
- Kemiringan tidak sesuai standar — kemiringan saluran irigasi biasanya berkisar 0,0002–0,0005, namun di lokasi terlihat perencanaannya tidak akurat
- Air diam tidak mengalir — genangan membuktikan air tidak bergerak lancar menuju sawah petani, melainkan berhenti di titik-titik rendah
- Lumpur sudah mulai mengendap — karena air diam, endapan tanah dan lumpur langsung menumpuk di dasar saluran yang baru selesai dibangun, yang lama-kelamaan akan menyumbat aliran
- Risiko banjir lokal — saat hujan deras, saluran yang airnya sudah tertahan akan meluap lebih cepat karena tidak mampu mengalirkan kelebihan air
3. 🏗️ Pekerjaan Dilakukan Saat Air Masih Mengalir — Kualitas Semen Terancam
Foto di lokasi memperlihatkan pemandangan yang seharusnya tidak terjadi dalam pekerjaan konstruksi irigasi yang benar:
- Pekerja berdiri di dalam air sambil memasang batu dan mengoleskan semen
- Air mengalir terus menerus melewati adukan semen yang belum mengeras
- Semen berisiko hanyut sebelum mengikat batu dengan kuat — dalam waktu singkat dinding bisa retak, lepas, bahkan longsor
- Kondisi kerja tidak memungkinkan presisi — berdiri di dalam air membuat pengukuran kerataan dan kemiringan sangat sulit dilakukan dengan akurat
- Tidak ada pengeringan atau penutupan aliran sementara sebelum pengerjaan, padahal ini prosedur standar yang wajib dilakukan
4. 📏 Ukuran Lebar dan Kedalaman Tidak Konsisten
- Lebar dasar saluran berubah-ubah — satu titik lebarnya 60 cm, beberapa meter kemudian menyempit menjadi 50 cm, lalu melebar lagi
- Kedalaman tidak seragam — ada bagian yang dangkal, ada yang terlalu dalam tanpa alasan teknis yang jelas
- Dinding tidak tegak lurus — banyak bagian dinding yang miring ke dalam atau ke luar, bukan tegak lurus sesuai standar
- Tidak ada garis lurus panduan — saluran terlihat berbelok-belok tidak beraturan meskipun di lahan yang seharusnya lurus memanjang
5. 🪨 Material Sisa dan Sampah Berserakan
- Batu pecah berukuran tidak standar berserakan di tepi saluran
- Karung semen bekas, plastik kemasan, dan sampah bangunan tidak tertata
- Sisa adukan semen menumpuk sembarangan, tidak terpakai dan tidak dibersihkan
- Tidak ada tanda pemeriksaan kualitas atau stiker inspeksi di sepanjang dinding yang sudah selesai
⚠️ DAMPAK NYATA BAGI WARGA DAN PETANI SUKAKERTA
Jika proyek ini diterima apa adanya dan dinyatakan selesai, kerugian yang akan ditanggung sangat besar:
🪴 Bagi Pertanian
- Air tidak sampai ke sawah — karena menggenang, air tidak mengalir lancar ke lahan petani, terutama di bagian ujung saluran
- Tanaman kekurangan air di musim kemarau — aliran tersendat, petani tetap kesulitan mendapatkan air meskipun saluran sudah dibangun
- Kebanjiran di musim hujan — saluran yang tidak lancar meluap lebih cepat, merusak tanaman dan tanah
- Biaya perawatan berlipat — dalam 1–2 tahun ke depan, dinding berisiko longsor dan saluran mampet, petani harus mengeluarkan biaya sendiri untuk memperbaikinya
💰 Bagi Keuangan Negara
- Anggaran APBN terbuang sia-sia — dana rakyat digunakan untuk hasil yang tidak layak pakai
- Pekerjaan ulang segera diperlukan — dalam waktu dekat harus dibangun lagi dengan biaya tambahan
- Tidak ada nilai tahan lama — struktur yang dibangun dengan kualitas ini tidak akan bertahan puluhan tahun seperti seharusnya infrastruktur irigasi
- Kerugian tidak tertulis — hasil panen turun karena pengairan tidak lancar, pendapatan petani berkurang terus-menerus
📉 Bagi Kepercayaan Publik
- Warga semakin ragu dengan kinerja pembangunan negara di daerah
- Program yang seharusnya populis justru memicu kemarahan karena kualitas yang dipertanyakan
- Pengawasan yang dinilai absen — siapa yang bertanggung jawab memeriksa setiap tahapan pekerjaan ini?
📢 TUNTUTAN DAN HARAPAN WARGA
Warga Desa Sukakerta menuntut beberapa hal mendesak:
1. Pemeriksaan Kualitas Menyeluruh — Tim teknis independen dan dari Balai Besar Sungai Citarum turun langsung memeriksa setiap meter pengerjaan sebelum masa kontrak berakhir
2. Pengecekan Material — Pastikan batu, semen, dan pasir yang digunakan sesuai spesifikasi dalam dokumen kontrak, tidak diganti dengan material berkualitas rendah
3. Evaluasi Kemiringan dan Profil Saluran — Ukur ulang kemiringan dasar saluran, perbaiki titik-titik yang menyebabkan genangan air
4. Pengerjaan Ulang Wajib — Jika terbukti tidak memenuhi standar teknis, kontraktor wajib membongkar dan membangun kembali dengan benar tanpa biaya tambahan
5. Transparansi Anggaran — Sampaikan secara terbuka berapa nilai kontrak ini, berapa yang seharusnya untuk material, berapa untuk tenaga kerja, agar warga tahu berapa yang sebenarnya dihabiskan
6. Akuntabilitas Pengawas — Siapa tim yang bertugas mengawasi harian proyek ini? Mengapa kesalahan mendasar seperti kemiringan saluran yang salah tidak tertangkap sejak awal?
🚩 KESIMPULAN: PROYEK PALSU YANG MEMAKAI UANG NEGARA
Proyek P3A-TGAI di Desa Sukakerta ini adalah contoh nyata bagaimana anggaran besar bisa menjadi sia-sia jika pelaksanaan dan pengawasan tidak jujur dan tidak ketat. Di atas papan nama tertulis: APBN, Kementerian PUPR, Balai Besar Sungai Citarum. Terdengar resmi dan berwenang. Namun di bawah papan itu, genangan air dan dinding batu yang asal pasang adalah bukti bisu bahwa ada sesuatu yang sangat salah.
Ini bukan lagi sekadar "kekurangan kecil". Ini adalah pelanggaran standar teknis yang mendasar, yang dilakukan dengan sengaja atau kelalaian berat — keduanya sama-sama tidak bisa dimaafkan. Karena yang dirugikan bukan hanya uang negara, tetapi nasib petani Sukakerta yang setiap hari berharap air mengalir ke sawah mereka.
Pembangunan bukan soal seberapa megah papan namanya, atau seberapa cepat selesainya. Pembangunan adalah soal kualitas, kejujuran, dan manfaat yang benar-benar dirasakan rakyat. Selama genangan air itu masih ada di saluran ini, maka proyek ini belum selesai — dan tidak boleh dinyatakan selesai.
"Kalau tidak dikerjakan dengan jujur dari awal, lebih baik tidak dibangun sama sekali. Karena yang rusak bukan cuma salurannya, tapi kepercayaan rakyat pada pembangunan negara." — Warga Desa Sukakerta
( Saka Adi Wijaya )



Social Header