Breaking News

Banjir Di Desa Jatireja Memperhatikan Bangunan Jababeka Phase 9 Di Sorot Warga


Mediaintelijen.id

Bekasi,19/01/2026

Ancaman Banjir di Desa Jatireja Memperhatikan, Pembangunan Jababeka Phase 9 Disorot Warga

Ancaman Banjir di Desa Jatireja Memperhatikan, Pembangunan Jababeka Phase 9 Disorot Warga

Selanjutnya jalan Penghubung Desa Karangsari Rusak Parah,Warga Desak Pemerintah Segera Bertindak

Kekhawatiran mendalam kini menyelimuti warga Desa Jatireja. Proyek pembangunan kawasan Jababeka Phase 9 yang mulai direalisasikan oleh PT Jababeka Infrastruktur di wilayah tersebut dinilai menjadi ancaman nyata bagi keselamatan lingkungan, khususnya risiko banjir besar yang kini membayang-bayangi pemukiman.

Pekerjaan pengurugan lahan persawahan yang sedang berlangsung dituding dilakukan tanpa pertimbangan matang terhadap dampak lingkungan. Pasalnya, area persawahan yang kini sedang diurug merupakan daerah resapan air alami bagi aliran air dari berbagai pemukiman dan perumahan di sekitarnya.

Ancaman Banjir di Desa Jatireja Memperhatikan, Pembangunan Jababeka Phase 9 Disorot Warga

Selanjutnya Pangkostrad Tutup Latihan Standardisasi Prajurit Kostrad Cakra XVII

Abaikan AMDAL dan Minim Drainase

Berdasarkan pantauan di lapangan, proyek ini diduga kuat tidak memperhatikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) secara komprehensif.

Tingkatkan Sinergi Pelayanan Sosial, IPSM Kecamatan Sukatani Gelar Rapat Kerja Perdana Rahmat Hidayat Ketua RW 029 Perumahan Grand Cikarang City Sakura Evakuasi Korban Terdampak Banjir Efektivitas BPBD dalam Penanganan Banjir di Kabupaten Bekasi Dipertanyakan

Hingga saat ini, belum terlihat adanya pembangunan saluran air besar (drainase) yang layak untuk mengalirkan debit air menuju sungai atau embung penampungan.

Wilayah sawah ini adalah tumpuan resapan air kami. Jika semua diurug tanpa ada solusi saluran pembuangan yang jelas ke sungai, maka jelas ancaman banjir Jatireja sudah di depan mata,” ujar salah satu perwakilan warga yang merasa khawatir.

Warga Jatireja Terancam Jadi Korban

Ketiadaan infrastruktur pengendali air yang memadai di tengah masifnya pengurugan lahan memicu pertanyaan besar terkait komitmen pengembang terhadap kelestarian lingkungan dan keselamatan warga lokal. Jika dibiarkan, warga Jatireja khawatir pemukiman mereka akan menjadi langganan banjir saat musim hujan tiba akibat hilangnya daerah parkir air.

Kini, bola panas ada di tangan pihak pengembang dan pemerintah daerah.

Apakah suara warga akan didengar, atau pembangunan akan terus berjalan tanpa memedulikan nasib ribuan jiwa yang terancam genangan?

Warga Jatireja kini mulai merapatkan barisan, mempertanyakan apakah mereka hanya akan diam saja melihat lingkungan mereka dirusak demi ekspansi industri.

Abaikan Aspirasi Warga, Karang Taruna Desa Jatireja Desak Jababeka Terkait Proyek Pengurugan KIJ 9

Ketua Karang Taruna Desa Jatireja, Jodi Wibawa S.M., menyatakan keprihatinan mendalam atas sikap PT Jababeka yang dinilai menutup mata terhadap kekhawatiran warga terkait proyek pengurugan di Kawasan Industri Jababeka (KIJ) 9. Proyek yang mulai dikerjakan sejak awal Desember 2025 tersebut dikhawatirkan akan memicu bencana banjir dan melumpuhkan ekonomi lokal.

Menurut Jodi, lahan sawah yang kini sedang diurug merupakan area resapan air alami bagi pemukiman dan perumahan warga di wilayah Jatireja. Dengan hilangnya fungsi resapan tersebut, potensi banjir besar kini menghantui warga sekitar. Tak hanya itu, proyek ini juga berdampak langsung pada hilangnya mata pencaharian warga yang selama ini bergantung pada lahan tersebut.

“Kami dari Karang Taruna memiliki kekhawatiran besar terhadap dampak lingkungan. Secara otomatis, jika lahan resapan ini ditutup, banjir akan melanda pemukiman. Selain itu, ada warga yang kehilangan sumber penghasilan mereka,” ujar Jodi Wibawa dalam keterangan resminya, Senin (19/1/2026).

Pihak Karang Taruna Desa Jatireja mengaku telah berupaya melakukan langkah diplomatis dengan melayangkan surat audiensi resmi sebanyak dua kali. Surat pertama dikirimkan pada 8 Desember 2025, disusul surat kedua pada 13 Januari 2026. Namun, hingga saat ini pihak Jababeka belum memberikan tanggapan apa pun.

“Sampai hari ini tidak ada iktikad baik atau tanggapan dari pihak Jababeka atas surat yang kami kirimkan. Kami hanya ingin beraudiensi untuk mencari solusi agar pembangunan tidak merugikan masyarakat Jatireja,” tegas Jodi.

Warga dan pemuda Desa Jatireja berharap pihak manajemen Jababeka segera membuka ruang dialog sebelum dampak lingkungan yang dikhawatirkan benar-benar terjadi dan memicu eskalasi konflik yang lebih besar di lapangan.

Awak media mengkonfirmasi kepala desa Jatireja namun tidak ada respon.

Sampai berita ini diterbitkan media masih melakukan konfirmasi ke pihak Jababeka, yang belum memberikan keterangan resmi terhadap hal tersebut.


(Marjoeki)

© Copyright 2022 - Media Intelijen